oleh

‘SOPIK’, Tradisi Kampong Tahane Tegakkan Kebenaran

Ternate, Haliyora

Indonesia dikenal sebagai negara yang dihuni oleh berbagai suku, etnis dan agama. Setiap suku dan etnis memiliki bahasa, adat dan budaya berbeda-beda. Sebagian besar masih memegang teguh praktek adat dalam menyelesaikan berbagai problem warganya, termasuk penyelesaian seketa hukum.

Salah satu etnis yang masih mempraktekkan hukum adat dalam meyelesaikan sengketa perdata antar warga adalah etnis Tahane (Dauri) yang dikenal dengan nama Hukum “SOPIK”.

Etnis Tahane (Dauri) adalah salah satu etnis Makian-Kayoa (Makayoa) yang tersebar di beberapa desa dalam wilayah Provinsi Maluku Utara dengan induk desanya di Dauri (Tahane), kecamatan Makian Pulau, Kabupaten Halmahera Selatan.

Nah, etnis Tahane ini memiliki sebuah hukum adat yang disebut SOPIK, dan dipraktekan secara turun-temurun hingga sekarang. Seperti disinggung di atas, SOPIK adalah salah satu cara penyelesaian sengketa, terutama sengketa perdata, seperti sengketa batas kebun, warisan dan persoalan perdata lainnya.

SOPIK sendiri dilakukan sebagai pengadilan terakhir para pihak atas kesepakatan mereka. Setelah disepakati para pihak untuk menempuh jalur SOPIK sebagai penyelesaian sengketa, kemudian mereka meminta Imam dan badan syara untuk menggelar pengadilan SOPIK.

Biasanya, pengadilan SOPIK digelar pada Jum’at sore, disaksikan seluruh warga masyarakat setempat. Sebelumnya, Imam atau kepala desa mengumumknan kepada masyarakat untuk tidak bepergian, sehingga dapat menyaksikan pelaksanaan SOPIK pada hari yang ditentukan (Biasanya Jum’at Sore).

Untuk melaksanakan pengadilan SOPIK tersebut, para pihak wajib menunjuk perwakilan sebagai pengganti untuk melakukan SOPIK. Sebab pengadilan SOPIK dilakukan dengan cara masing-masing perwakilan pihak, menenggelamkan diri di laut dengan menggunakan pemberat berupa batu. Dan Pemenangnya adalah siapa yang paling lama bertahan dalam air laut.

BACA JUGA:  BNN Malut Tangkap Pengedar Narkoba Jaringan Kota Medan

SOPIK sendiri berasal dari asal kata SOP yang dalam bahasa Makian atau Tahane aritinya Selam atau dalam bahasa sehari-hari tum atau Batum, yakni satu kegiatan menenggelamkan diri ke ke dalam air.

Keunikan dari Pengadilan SOPIK itu adalah tidak tergantung pada kemampuan menahan nafas dari perwakilan para pihak yang melakukan SOPIK. Sebab lama dan tidaknya bertahan dalam air laut ditentukan oleh kebenaran pihak yang diwakilinya.

Sehingga meskipun salah satu pihak menunjuk sesorang yang dikenal memiliki keahlian menyelam dan terkenal mampu bertahan dalam waktu lama dalm air tanpa alat, tetapi jika yang diwakilinya itu berada pada pihak yang salah, maka tak akan bertahan lama atau bahkan tak mampu menyelam. Sementara orang yang mewakili pihak yang benar akan bertahan dalam air laut selama petugas tidak memberikan aba-aba atau tanda untuk muncul ke permukaan laut.

Keunikan lainya adalah, seluruh material berupa pasir, batu kerikil, arus, ikan kecil yang ada di sekitar area SOPIK akan muncul tiba-tiba mengganggu orang yang mewakili pihak yang salah, sehingga tidak akan bertahan dalam air laut, sedangkan orang yang mewakili pihak yang benar, akan merasa seperti tertidur di kasur empuk, sehingga kalau tidak dikagetkan dengan lemparan batu kecil oleh Imam, dia bisa seharian dalam air Laut.

Hal ini diceritrakan sendiri salah seorang pelaku SOPIK yang sekarang menjadi salah satu Kepala Desa di Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan yakni H. Azis H. Amuda.

BACA JUGA:  Sangaji Bicoli Siap Mendukung Siapapun Pejabat Bupati yang Ditunjuk

Kepda Haliyora, H. Azis menceritakan pengalamannya kala dirinya diminta mewakili salah satu pihak dalam satu sengketa perdata di desa Laromabati, Kecamatan Kayoa. Katanya, waktu itu dirinya masih bujangan.

Kata dia, saat mewakili pihak yang kemudian kalah dalam pengadilan SOPIK saat itu. Ia mengisahkan, saat mendengar aba-aba dari Imam berupa tiga kali salawat, dan pada salawat ketiga kedua perwakilan para pihak langsung sama-sama menenggelamkan diri menggunakan batu sebagi pemberat.

Namun, lanjut dia, dalam sekejap, entah dari mana tiba-tiba arus laut datang memutar dirinya dan bersamaan dengan itu sejumlah ikan kecil mematuk matanya, ditambah pasir dan kerikil di dasar laut naik menutupinya. Mulut, hidung serta matanya serasa tertutup oleh pasir, nafasnya hampir putus sehingga ia langsung melepas batunya dan muncul ke permukaan laut.

“Sedangkan kita pe lawan so hampir stengah jam bolong muncul, sampe pak Imam lempar batu kecil satu pa dia baru dia muncul,”ungkap Hi. Azis saat berbincang dengan Haliyora via Telpon, Rabu (14/10/2020).

Ketika Haliyora meminta penjelasan tentang Hukum Adat SOPIK tersebut lewat telepon, Imam Dauri (Tahane) H. Yais Yakub menuturkan, Hukum SOPIK adalah pengadilan adat tertinggi dalam sengketa warga, dan hanya orang Tahane yang bisa lakukan.

“Suku atau etnis di luar Tahane (Dauri) biking tara jadi, walaupun dorang tau dia pe cara dan belajar dia pe do’a. Jadi so beberapa kali ada orang dari desa sabla datang ke Daori (Tahane) minta tong adili dong pe sengketa lewat Hukum SOPIK, karena dorang sandiri biking tara jadi,”terangnya.

BACA JUGA:  Paslon Frans-Muchlis Terancam Didiskualifikasi

H. Yais menjealskan, dalam pelaksanaan pengadilan SOPIK tersebut, seluruh masyarakat diminta berkumpul dan menyaksikannya. Pelaksanaanya di pinggir pantai, dan para pihak harus menunjuk wakilnya untuk melakukan Sopik.

Lanjutnya, orang yang mewakili masing-masing pihak memilih batunya untuk dijadikan pemberat. Batu tersbut dibacakan do’a oleh petugas Syara dipimpin Imam, kemudian diberikan kepada perwakilan pihak. Setelah itu kedua perwakilan itu berjalan ke laut hingga batas air laut di leher.

Keduanya berdiri menunggu aba-aba dari Imam untuk menyelam. Setelah Imam membacakan do’a diakhiri tiga kali salawat. Nah pada salawat terakhir keduanya langsung menenggelamkan diri menggunakan batu yang sudah dibacakan doa itu sebagai pemberat. “Biasanya, orang yang mewakili pihak yang salah akan mendapat gangguan dari seluruh mahluk di sekitar area SOPIK, sehingga tidak bertahan lama, sedangkan perwakilan pihak yang benar akan merasa nyaman seperti tidur, nanti dikode baru muncul.

Imam Tahane itu menambakan pula, SOPIK sebenarnya bukan hanya untuk mengadili perkara atau sengketa perdata saja, tapi dapat dilakukan untuk mengadili seluruh jenis kasus atau perkara.

“Sengketa Pilkada juga bisa dicari kebenarannya lewat pengadilan SOPIK. Tapi kita rasa perwakilan semua pihak yang berperkara, baik pelapor maupun terlapor sama-sama diganggu Gorango (Hiu) saat SOPIK, soalnya dua-dua ruci,”ujar pak Imam berkelakar. (Red-1)

Komentar

News Feed